Bahagia sekali aku bisa memilikimu, kau bagaikan berlian yang tak ternilai harganya. Aku menyukai segala yang ada pada dirimu, canda tawa, kepintaranmu dalam mengatasi masalah, dan sifat mu yang cukup dewasa untuk remaja seumuran kita.
Awalnya kita hanya teman biasa, aku bahagia bisa berteman denganmu. Tapi getaran yang aku rasakan tidaklah seperti sebuah pertemanan. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu.
Enam bulan sudah kita berteman. Kau kembali membuatku lebih bahagia lagi. Aku tak pernah menyangka, kau merasakan hal yang juga ku rasakan. Kau memintaku untuk menjadi kekasihmu. Tanpa pikir panjang pun aku menganggukkan petanyaanmu.
Setiap hari kita menuangkan kasih sayang, kau membuat diriku bagaikan bidadari, tak pernah sedikit pun kau melukai hati ku.
2010 kini telah berganti menjadi 2011. Setahun sudah kita jalani hubungan ini. Hubungan yang menurutku begitu indah, hingga tak akan bisa kulupakan sampai kapanpun itu.
Kau semakin menyayangiku hari demi hari. Sungguh, kau bagaikan malaikatku Rio. Sampai disaat-saat terakhirmu, kau masih tetap bisa membuatku bahagia.
Januari 2011
Kini kau lebih sering meluangkan waktumu dengan ku dan teman-temanmu. Kau tinggalkan semua kegiatan belajarmu hanya untuk kami. Aku bahagia, tapi juga kecewa dengan caramu yang meninggalkan kegiatan belajarmu hanya untuk kami, hanya untuk alasan yang tak logis. Ini seperti bukan dirimu.
Bulan ini kau lebih terlihat romantis dari bulan-bulan sebelumnya. Kau perlakukan aku lebih dari seorang bidadari hingga hari terakhirmu.
13 Februari 2011
Hari ini kau habiskan waktumu untuk kami. Aku dan teman-temanmu. Kau berikan canda tawa yang lebih. Kau seorang yang periang Rio.
Hari ini juga kau belikan aku sebuah boneka dan bunga. Dan kau berikan padaku sembari berkata "ini hadiah valentine mu", aku bingung dan aku betanya padamu "kenapa memberiku boneka dan bunga sebagai hadiah valentine hari ini? Kenapa tidak besok saja?" Dan kau menjawab "aku takut besok tidak bisa memberikannya padamu". Dan aku hanya tertawa menanggapinya. Lalu kau mengajakku pergi ke tempat yang menyenangkan untuk sepasang kekasih. Hingga akhirnya kau mengantarku pulang. Dan disaat itulah aku terakhir kali melihatmu, senyum mu yang tak bisa kulupakan.
13 februari 2011 at 11.00pm
Kau pulang kerumah setelah kau bermain dengan teman-temanmu. Ayahmu menelepon mu untuk segera pulang.
Dan kau pun pulang.
Aku tak tahu apa yang bisa membuatmu mengendarai motor begitu cepat, menyalip truk dan bus yang akhirnya membawamu ke dalam kecelakaan. Kecelakaan yang merenggut nyawamu dan merenggut mu dariku.
Aku tak kuat menahan tangis ketika aku mendengar kabar bahwa kau sudah pergi selamanya. Aku tak percaya hingga akhirnya aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Melihat jasad mu yang sudah terbujur kaku. Aku meronta sekeras yang aku bisa, terisak-isak.
Kau jahat padaku. Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau berikan aku kebahagiaan itu? Kini aku mengerti maksud mu kenapa kau tidak memberikan hadiah valentine itu tepat tanggal 14 februari. Kau ingin pergi. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau ingin pergi? Agar aku dapat mempersiapkan mentalku atas kepergianmu. Kenapa kau pergi tanpa pamit?
Satu tahun telah berlalu sejak kepergianmu. Tak bisa kulupakan semua kenangan tentang kita. Aku terlalu mencintaimu. Tapi aku juga harus melepasmu. Aku mau kau tenang di alam sana, alam yang berbeda. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan bertemu denganmu di kehidupan yang lain dan kembali bersama-sama denganmu. Terimakasih Rio, terimakasih sudah menjadikan ku wanita terakhirmu. Aku bahagia sampai detik ini.
kekasihmu,
pipit
Rio and Pipit are real. This is a true story. Al-fatihah for Rio.
ReplyDelete