Ya Tuhan, aku bersyukur atas segala berkat yang Kau beri padaku selama
ini. Kau menggendong ku ketika aku sulit berjalan, Kau memelukku ketika
hati ku sedang resah. Kau sahabat terbaik ku, disaat tidak ada orang
yang bisa mendengar ceritaku, Kau selalu bisa mendengarkannya dengan
baik. Disaat orang-orang pergi dari ku, Kau selalu setia mendampingiku
kemanapun itu.
Ya Tuhan, aku tau semua yang terjadi pada diriku
dan apa yang terjadi pada orang-orang di sekitarku, semua itu sudah
Engkau atur sedemikian rupa. Aku tahu, Kau tak mungkin memberikan kami
kesedihan, Kau hanya menguji kami. Menguji apakah kami sanggup untuk
hidup di dunia. Ku yakin dan percaya, di balik cobaan-cobaan yang Engkau
beri, ada kebahagiaan yang menanti di depan sana. Kau sungguh adil
Tuhan.
Ya Tuhan, sungguh Kau begitu pemaaf disaat orang-orang
lupa akan diri-Mu. Terkadang, aku merasa sangat hina ketika aku marah
dan tak dapat memaafkan seseorang tapi, disamping itu hati-Mu sungguh
mulia. Seorang pembunuh pun dapat Kau maafkan dengan tulus.
Tuhan, ku yakin Kau pasti bisa membimbing ku ke dalam peluk-Mu. Kedalam kasih untuk mengasihi sesama.
Ya
Tuhan, Kau sungguh menakjubkan. Terkadang apa yang kelihatan bagi ku,
itu mustahil bagi ku. Tapi itu sangat mungkin bagi-Mu dan yang mungkin
bagi-Mu itulah yang kami sebut dengan mujizat. Aku tahu Tuhan, mujizat
itu nyata di hidupku, karena ku hidup oleh percaya..
Ya Tuhan,
terkadang aku berpikir untuk dapat menjadi seperti seberkas cahaya,
seberkas cahaya yang ada di dalam kegelapan. Seberkas cahaya yang mampu
menerangi langkahku dan langkah orang-orang di sekitarku. Meski hanya
seberkas cahaya, tapi itu bermanfaat.
Ya Tuhan, terimakasih untuk nafas yang telah Kau beri padaku hingga saat ini.
Monday, April 9, 2012
Sunday, March 18, 2012
Detik
Tik tokk tikk tokk
Ku dengar dengan sangat jelas suara jarum
jam yang terus bergerak dari detik ke detik menunjukkan pukul 12.22 am, dini
hari. Mataku tertuju pada satu arah di depan ku, jarum jam panjang berwarna
merah dan pikiranku sangat tersesat di tengah-tengah gurun pasir. Aku berjalan
terus kedepan tanpa melihat kebelakang, aku takut tersesat kembali. Berharap
jika aku berjalan lurus tanpa melihat kebelakang, aku akan menemukan jalan
keluar, jalan keluar yang membuatku bebas dari gurun pasir ini.
Tikkk tokk tiikkk tokkkk..
Ku lihat
kembali jarum jam tersebut, satu menit pun belum dapat diselesaikan olehnya.
Aku kembali muncul di dalam pikiranku. Berjalan lurus selama beberapa hari
sembari menahan lapar karena tak ada satu pun yang bisa di makan di gurun pasir
ini. Terus berjalan langkah demi langkah. Aku yakin aku bisa keluar dari gurun
pasir yang luas ini. Terlalu banyak
bayangan air atau pohon yang aku temukan di gurun pasir ini. Terlalu banyak
kepalsuan disini. Aku ingin keluar.
Tikk tok tik tok…
Jarum jam
panjang berwarna merah itu masih belum menyelesaikan 1 menit pun. Hanya berbeda
5 detik dari detik terakhir yang kulihat. Aku kembali lagi pada pikiranku
sambil menutup mata, merasakan semuanya.
Bulan pun menampakkan dirinya. Terlalu lelah aku
berjalan, sudah tak mampu lagi kaki ku berjalan terus menyusuri gurun ini. Aku
kebingungan dan menangis hingga akhirnya aku tertidur sangat nyenyak.
Tik tok tik tok tik tokk…
Aku
membuka mataku dan kembali menatap lurus jarum jam yang tepat berada di depan
mata ku. 20 detik telah berlalu. Aku kembali masuk kedalam pikiranku.
Mentarari telah menampakkan dirinya. Tanpa disadari apa
yang aku lihat kini bagaikan mimpi. Aku mencubit kulitku berkali-kali untuk
membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi. Tuhan mendengar apa yang aku minta. Aku
melihat sekumpulan orang-orang yang menjajahkan jualannya di gurun ini, digurun
pasir yang penuh kepalsuan ini. Dengan harapan mereka dapat membawa ku kembali
ke rumah. Jarakku tidaklah jauh dari mereka, hanya berjarak 1 km. Aku mulai
berjalan, tak sabar untuk bebas dari kekejaman gurun ini.
Tik tokk tik tok tik tok…
Hanya
berlalu 3 detik rupanya dari detik sebelumnya.
Aku berjalan terus kedepan hingga akhirnya hanya tinggal beberapa
langkah untuk dapat keluar dari gurun ini. Hanya menghitung mundur dari 10, 9,
8, 7, 6, 5, 4, 3. Disaat aku akan melangkahkan kaki pada hitungan kedua, aku
mendengar seseorang dari kejahuan memanggil namaku “eno” dengan suara yang
sangat lantang dan dari arah yang berlawanan. Suara itu sangat jauh dan
terdengar sangat keras saat memanggilku. Kucoba untuk mengabaikan suara itu.
Suara yang akan menghalangi ku untuk bebas dari gurun ini. Tapi suara itu terlalu mengganggu. Aku tetap
tidak memerdulikan suara itu. Kesempatan bebas sudah di depan mata, hanya
tinggal melangkahkan kaki satu langkah lagi, maka aku akan bebas.
Tik tok tik tok tik tokkk..
Kulihat jarum
jam, ternyata masih belum menyelesaikan satu menit pun dari awal aku masuk
kedalam pikiranku, aku menutup kembali mataku.
Ketika aku mengangkat kaki ku untuk langkah yang
terakhir, ku dengar suara itu kembali dengan lebih jelas. Aku mengenal suara
itu. Ingin aku menoleh tapi bagaimana dengan kebebasanku? Tinggal 1 langkah
lagi. Aku takut menoleh dan aku takut melihat kenyataan yang tak berbanding
lurus dengan apa yang kuharapkan. Suara itu begitu mengganggu dan terasa
terengah-engah “enoo, enooo,enoo”. Aku tak bisa. Tak bisa. Tak bisa aku
melanjutkan langkahku dan kebebasanku yang sudah ada di depan mata. Aku menoleh
dan benar, aku mengenal orang itu. Orang yang dulu pernah membuatku terjebak di
gurun yang penuh dengan kepalsuan ini. Aku berjalan kearahnya dan meninggalkan
kebebasan yang sudah di depan mata. Dia terlihat sangat lelah dan pucat, bahkan
terlihat lebih lelah dariku. Aku membantunya berdiri, aku menopangnya dengan
penuh kasih. Tapi apa yang kudapat? Kepalsuan untuk yang kedua kali. Dia
berhasil membawaku menjauh dari
kebebasan. Dia bagaikan iblis di gurun pasir, iblis yang datang tiba-tiba dan
menghilang tiba-tiba.
Tiikk took tikk took…
Aku
membuka mataku yang sudah penuh dengan air mata dan menatap lurus pada jarum
jam yang dari tadi belum menyelesaikan menitnya 1 menit pun. Terlalu banyak
awan hitam di sekelilingku. Hingga akhirnya aku bangun dari duduk ku dan
mengambil jam dinding tersebut lalu melemparnya sejauh mungkin hingga hancur.
Hancur hingga detik pun tak dapat bergerak kembali..
Saturday, March 3, 2012
This is "not" Fair
When I look back on my life, it’s not that I don’t want to see things exactly as they happened, it’s just that I prefer to remember them in an artistic way. And truthfully, the lie of it all is much more honest because I invented it.
Clinical psychology tells us arguably that trauma is the ultimate killer. Memories are not recycled like atoms and particles in quantum physics; they can be lost forever. It’s sort of like my past, I must fill in all the ugly holes and make it beautiful again. :(
( It’s not that I’ve been dishonest, it’s just that I loathe reality. )
Clinical psychology tells us arguably that trauma is the ultimate killer. Memories are not recycled like atoms and particles in quantum physics; they can be lost forever. It’s sort of like my past, I must fill in all the ugly holes and make it beautiful again. :(
( It’s not that I’ve been dishonest, it’s just that I loathe reality. )
Ungkapan Semata
Biasakan untuk itu, Eno. Semua sampah anda ada di bawah meja karena mereka tersenyum pada wajah anda. Kejam kata-kata seperti pistol setrum. Hidup seperti drum yang bersenandung, mengetuk ke tanah, ohhhhhh. Tidak ada Penyebab untuk membenci kamu. Apakah Anda sadar? Kau hanya salah satu catatan dalam sebuah simfoni. Tidak ada yang perlu Anda tahu. Tidak ada di sana. Hidup dalam keburukan, tetapi untuk satu titik, apakah Dia peduli? Apakah Anda peduli? Tidak ada yang membenci kamu. Apakah Anda sadar? Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan. Tidak ada di sana, tak seorang pun, tak seorang pun, tidak ada.
Rio
Bahagia sekali aku bisa memilikimu, kau bagaikan berlian yang tak ternilai harganya. Aku menyukai segala yang ada pada dirimu, canda tawa, kepintaranmu dalam mengatasi masalah, dan sifat mu yang cukup dewasa untuk remaja seumuran kita.
Awalnya kita hanya teman biasa, aku bahagia bisa berteman denganmu. Tapi getaran yang aku rasakan tidaklah seperti sebuah pertemanan. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu.
Enam bulan sudah kita berteman. Kau kembali membuatku lebih bahagia lagi. Aku tak pernah menyangka, kau merasakan hal yang juga ku rasakan. Kau memintaku untuk menjadi kekasihmu. Tanpa pikir panjang pun aku menganggukkan petanyaanmu.
Setiap hari kita menuangkan kasih sayang, kau membuat diriku bagaikan bidadari, tak pernah sedikit pun kau melukai hati ku.
2010 kini telah berganti menjadi 2011. Setahun sudah kita jalani hubungan ini. Hubungan yang menurutku begitu indah, hingga tak akan bisa kulupakan sampai kapanpun itu.
Kau semakin menyayangiku hari demi hari. Sungguh, kau bagaikan malaikatku Rio. Sampai disaat-saat terakhirmu, kau masih tetap bisa membuatku bahagia.
Januari 2011
Kini kau lebih sering meluangkan waktumu dengan ku dan teman-temanmu. Kau tinggalkan semua kegiatan belajarmu hanya untuk kami. Aku bahagia, tapi juga kecewa dengan caramu yang meninggalkan kegiatan belajarmu hanya untuk kami, hanya untuk alasan yang tak logis. Ini seperti bukan dirimu.
Bulan ini kau lebih terlihat romantis dari bulan-bulan sebelumnya. Kau perlakukan aku lebih dari seorang bidadari hingga hari terakhirmu.
13 Februari 2011
Hari ini kau habiskan waktumu untuk kami. Aku dan teman-temanmu. Kau berikan canda tawa yang lebih. Kau seorang yang periang Rio.
Hari ini juga kau belikan aku sebuah boneka dan bunga. Dan kau berikan padaku sembari berkata "ini hadiah valentine mu", aku bingung dan aku betanya padamu "kenapa memberiku boneka dan bunga sebagai hadiah valentine hari ini? Kenapa tidak besok saja?" Dan kau menjawab "aku takut besok tidak bisa memberikannya padamu". Dan aku hanya tertawa menanggapinya. Lalu kau mengajakku pergi ke tempat yang menyenangkan untuk sepasang kekasih. Hingga akhirnya kau mengantarku pulang. Dan disaat itulah aku terakhir kali melihatmu, senyum mu yang tak bisa kulupakan.
13 februari 2011 at 11.00pm
Kau pulang kerumah setelah kau bermain dengan teman-temanmu. Ayahmu menelepon mu untuk segera pulang.
Dan kau pun pulang.
Aku tak tahu apa yang bisa membuatmu mengendarai motor begitu cepat, menyalip truk dan bus yang akhirnya membawamu ke dalam kecelakaan. Kecelakaan yang merenggut nyawamu dan merenggut mu dariku.
Aku tak kuat menahan tangis ketika aku mendengar kabar bahwa kau sudah pergi selamanya. Aku tak percaya hingga akhirnya aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Melihat jasad mu yang sudah terbujur kaku. Aku meronta sekeras yang aku bisa, terisak-isak.
Kau jahat padaku. Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau berikan aku kebahagiaan itu? Kini aku mengerti maksud mu kenapa kau tidak memberikan hadiah valentine itu tepat tanggal 14 februari. Kau ingin pergi. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau ingin pergi? Agar aku dapat mempersiapkan mentalku atas kepergianmu. Kenapa kau pergi tanpa pamit?
Satu tahun telah berlalu sejak kepergianmu. Tak bisa kulupakan semua kenangan tentang kita. Aku terlalu mencintaimu. Tapi aku juga harus melepasmu. Aku mau kau tenang di alam sana, alam yang berbeda. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan bertemu denganmu di kehidupan yang lain dan kembali bersama-sama denganmu. Terimakasih Rio, terimakasih sudah menjadikan ku wanita terakhirmu. Aku bahagia sampai detik ini.
kekasihmu,
pipit
Kecewa
Apa yang kuinginkan kadang tidak seperti yang ada dalam pikiranku. Apa
yang ku impikan kadang tidak seperti bagunan pencakar langit yang kokoh
berdiri dan dapat menampung orang-orang yang berpijak di dalamnya. Apa
yang kuharapkan kadang tak sesuai dengan apa yang terjadi di depan
mataku.
Bak menabur emas hanya menuai perak.
Aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan, amarah, kekecewaan, semua akan kutulis dengan jari-jari ku. Disaat ini lah aku seperti berada di sebuah padang pasir yang luas, sendiri tanpa seorang pun. "Kehilangan arah", meronta pun percuma.
Dan disaat hatiku sudah tak lagi gundah, tak lagi kesepian. Aku akan membukanya kembali. Membuka dan membacanya kembali. Membaca dimana curahan kekecewaan dan amarahku yang telah ku tuangkan melalui jari-jariku.
Kau tau apa reaksiku ketika aku membacanya kembali? Aku pasti tertawa, tertawa keras. Sekeras yang aku bisa. Menertawakan diriku. Diriku yang terlalu lugu untuk dikecewakan.. Lalu aku melihat tombol "delete". Ya, aku memencet tombol itu, segala sesuatu yang menyakitkan tidak harus aku ungkapkan pada sebuah cerita yang hanya dapat membuatku terlihat lemahhh.. Biarkan itu hanya ada di dalam pikiranku, dan perlahan akan hilang.
Tak pernah terpatri aku akan merasakan hal ini. Saat itu mimpiku sedang melesat tinggi. Tinggi sekali. Hingga akhirnya aku sadar, bahwa hanya angankulah yang bisa mengikuti mimpiku yang begitu tinggi. Tapi kaki ku, masih tetap berpijak pada tanah. Aku menunggu harapan datang padaku, tapi ternyata dia membelokkan arah dan tak datang padaku, menoleh pun tidak.
Entah sampai kapan aku akan seperti ini, aku hanya ingin harapan datang padaku, berjalan beriring-iringan, tanpa ada kesalahan yang sama "lagi". Harapan yang begitu lembut menatapku. Bagai melati, bukan bunglon.
Aku bukanlah apa, aku hanya seorang gadis. Seorang gadis yang menunggu harapan akan datang padaku, menjemputku. Dan berharap tak ada lagi kekecewaan yang akan datang. Dan meninggalkan semuanya ketika kecewa dan marah tak lagi membalut hati.
Bak menabur emas hanya menuai perak.
Aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan, amarah, kekecewaan, semua akan kutulis dengan jari-jari ku. Disaat ini lah aku seperti berada di sebuah padang pasir yang luas, sendiri tanpa seorang pun. "Kehilangan arah", meronta pun percuma.
Dan disaat hatiku sudah tak lagi gundah, tak lagi kesepian. Aku akan membukanya kembali. Membuka dan membacanya kembali. Membaca dimana curahan kekecewaan dan amarahku yang telah ku tuangkan melalui jari-jariku.
Kau tau apa reaksiku ketika aku membacanya kembali? Aku pasti tertawa, tertawa keras. Sekeras yang aku bisa. Menertawakan diriku. Diriku yang terlalu lugu untuk dikecewakan.. Lalu aku melihat tombol "delete". Ya, aku memencet tombol itu, segala sesuatu yang menyakitkan tidak harus aku ungkapkan pada sebuah cerita yang hanya dapat membuatku terlihat lemahhh.. Biarkan itu hanya ada di dalam pikiranku, dan perlahan akan hilang.
Tak pernah terpatri aku akan merasakan hal ini. Saat itu mimpiku sedang melesat tinggi. Tinggi sekali. Hingga akhirnya aku sadar, bahwa hanya angankulah yang bisa mengikuti mimpiku yang begitu tinggi. Tapi kaki ku, masih tetap berpijak pada tanah. Aku menunggu harapan datang padaku, tapi ternyata dia membelokkan arah dan tak datang padaku, menoleh pun tidak.
Entah sampai kapan aku akan seperti ini, aku hanya ingin harapan datang padaku, berjalan beriring-iringan, tanpa ada kesalahan yang sama "lagi". Harapan yang begitu lembut menatapku. Bagai melati, bukan bunglon.
Aku bukanlah apa, aku hanya seorang gadis. Seorang gadis yang menunggu harapan akan datang padaku, menjemputku. Dan berharap tak ada lagi kekecewaan yang akan datang. Dan meninggalkan semuanya ketika kecewa dan marah tak lagi membalut hati.
Wednesday, February 29, 2012
hi !
Hii, just call me eno.
I like to tell story, want to know more about me? let's visit my other blogs
enollanore.tumblr.com, it’s my first blog, I use that blog just to posting photos, quotes, etc..hope you like my post in this blog. lavb!
enollanore.wordpress.com it's my third blog, honestly I don't know what should I do with this blog hahhaha. I made it because my lecture asked me to make a blog in wordpress (call it with homework hahah). I think it's good if I use that blog for sharing some articles about healthy, food or fashion <3
and where is my second blog? this is my second blog. I love story, tell a story it can makes me feel better and I also love to hear stories from people around me. Hear their stories, their experiences, it can be my motivation to be a good and a better person n_n
I hope you like my story in this blog n_n
Subscribe to:
Posts (Atom)

