Sunday, March 18, 2012

Detik


Tik tokk tikk tokk
           Ku dengar dengan sangat jelas suara jarum jam yang terus bergerak dari detik ke detik menunjukkan pukul 12.22 am, dini hari. Mataku tertuju pada satu arah di depan ku, jarum jam panjang berwarna merah dan pikiranku sangat tersesat di tengah-tengah gurun pasir. Aku berjalan terus kedepan tanpa melihat kebelakang, aku takut tersesat kembali. Berharap jika aku berjalan lurus tanpa melihat kebelakang, aku akan menemukan jalan keluar, jalan keluar yang membuatku bebas dari gurun pasir ini.

Tikkk tokk tiikkk tokkkk..
          Ku lihat kembali jarum jam tersebut, satu menit pun belum dapat diselesaikan olehnya. Aku kembali muncul di dalam pikiranku. Berjalan lurus selama beberapa hari sembari menahan lapar karena tak ada satu pun yang bisa di makan di gurun pasir ini. Terus berjalan langkah demi langkah. Aku yakin aku bisa keluar dari gurun pasir yang luas ini.  Terlalu banyak bayangan air atau pohon yang aku temukan di gurun pasir ini. Terlalu banyak kepalsuan disini. Aku ingin keluar.

Tikk tok tik tok…
         Jarum jam panjang berwarna merah itu masih belum menyelesaikan 1 menit pun. Hanya berbeda 5 detik dari detik terakhir yang kulihat. Aku kembali lagi pada pikiranku sambil menutup mata, merasakan semuanya.
Bulan pun menampakkan dirinya. Terlalu lelah aku berjalan, sudah tak mampu lagi kaki ku berjalan terus menyusuri gurun ini. Aku kebingungan dan menangis hingga akhirnya aku tertidur sangat nyenyak.

Tik tok tik tok tik tokk…
         Aku membuka mataku dan kembali menatap lurus jarum jam yang tepat berada di depan mata ku. 20 detik telah berlalu. Aku kembali masuk kedalam pikiranku.
Mentarari telah menampakkan dirinya. Tanpa disadari apa yang aku lihat kini bagaikan mimpi. Aku mencubit kulitku berkali-kali untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi. Tuhan mendengar apa yang aku minta. Aku melihat sekumpulan orang-orang yang menjajahkan jualannya di gurun ini, digurun pasir yang penuh kepalsuan ini. Dengan harapan mereka dapat membawa ku kembali ke rumah. Jarakku tidaklah jauh dari mereka, hanya berjarak 1 km. Aku mulai berjalan, tak sabar untuk bebas dari kekejaman gurun ini.

Tik tokk tik tok tik tok…
          Hanya berlalu 3 detik rupanya dari detik sebelumnya.
Aku berjalan terus kedepan hingga akhirnya hanya tinggal beberapa langkah untuk dapat keluar dari gurun ini. Hanya menghitung mundur dari 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3. Disaat aku akan melangkahkan kaki pada hitungan kedua, aku mendengar seseorang dari kejahuan memanggil namaku “eno” dengan suara yang sangat lantang dan dari arah yang berlawanan. Suara itu sangat jauh dan terdengar sangat keras saat memanggilku. Kucoba untuk mengabaikan suara itu. Suara yang akan menghalangi ku untuk bebas dari gurun ini.  Tapi suara itu terlalu mengganggu. Aku tetap tidak memerdulikan suara itu. Kesempatan bebas sudah di depan mata, hanya tinggal melangkahkan kaki satu langkah lagi, maka aku akan bebas.

Tik tok tik tok tik tokkk..
          Kulihat jarum jam, ternyata masih belum menyelesaikan satu menit pun dari awal aku masuk kedalam pikiranku, aku menutup kembali mataku.
Ketika aku mengangkat kaki ku untuk langkah yang terakhir, ku dengar suara itu kembali dengan lebih jelas. Aku mengenal suara itu. Ingin aku menoleh tapi bagaimana dengan kebebasanku? Tinggal 1 langkah lagi. Aku takut menoleh dan aku takut melihat kenyataan yang tak berbanding lurus dengan apa yang kuharapkan. Suara itu begitu mengganggu dan terasa terengah-engah “enoo, enooo,enoo”. Aku tak bisa. Tak bisa. Tak bisa aku melanjutkan langkahku dan kebebasanku yang sudah ada di depan mata. Aku menoleh dan benar, aku mengenal orang itu. Orang yang dulu pernah membuatku terjebak di gurun yang penuh dengan kepalsuan ini. Aku berjalan kearahnya dan meninggalkan kebebasan yang sudah di depan mata. Dia terlihat sangat lelah dan pucat, bahkan terlihat lebih lelah dariku. Aku membantunya berdiri, aku menopangnya dengan penuh kasih. Tapi apa yang kudapat? Kepalsuan untuk yang kedua kali. Dia berhasil membawaku  menjauh dari kebebasan. Dia bagaikan iblis di gurun pasir, iblis yang datang tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba.

Tiikk took tikk took…
           Aku membuka mataku yang sudah penuh dengan air mata dan menatap lurus pada jarum jam yang dari tadi belum menyelesaikan menitnya 1 menit pun. Terlalu banyak awan hitam di sekelilingku. Hingga akhirnya aku bangun dari duduk ku dan mengambil jam dinding tersebut lalu melemparnya sejauh mungkin hingga hancur. Hancur hingga detik pun tak dapat bergerak kembali..

1 comment:

  1. hmmm, a good story with bad ending. I think I will rewrite and maybe remake this story..

    ReplyDelete