Tik tokk tikk tokk
Ku dengar dengan sangat jelas suara jarum
jam yang terus bergerak dari detik ke detik menunjukkan pukul 12.22 am, dini
hari. Mataku tertuju pada satu arah di depan ku, jarum jam panjang berwarna
merah dan pikiranku sangat tersesat di tengah-tengah gurun pasir. Aku berjalan
terus kedepan tanpa melihat kebelakang, aku takut tersesat kembali. Berharap
jika aku berjalan lurus tanpa melihat kebelakang, aku akan menemukan jalan
keluar, jalan keluar yang membuatku bebas dari gurun pasir ini.
Tikkk tokk tiikkk tokkkk..
Ku lihat
kembali jarum jam tersebut, satu menit pun belum dapat diselesaikan olehnya.
Aku kembali muncul di dalam pikiranku. Berjalan lurus selama beberapa hari
sembari menahan lapar karena tak ada satu pun yang bisa di makan di gurun pasir
ini. Terus berjalan langkah demi langkah. Aku yakin aku bisa keluar dari gurun
pasir yang luas ini. Terlalu banyak
bayangan air atau pohon yang aku temukan di gurun pasir ini. Terlalu banyak
kepalsuan disini. Aku ingin keluar.
Tikk tok tik tok…
Jarum jam
panjang berwarna merah itu masih belum menyelesaikan 1 menit pun. Hanya berbeda
5 detik dari detik terakhir yang kulihat. Aku kembali lagi pada pikiranku
sambil menutup mata, merasakan semuanya.
Bulan pun menampakkan dirinya. Terlalu lelah aku
berjalan, sudah tak mampu lagi kaki ku berjalan terus menyusuri gurun ini. Aku
kebingungan dan menangis hingga akhirnya aku tertidur sangat nyenyak.
Tik tok tik tok tik tokk…
Aku
membuka mataku dan kembali menatap lurus jarum jam yang tepat berada di depan
mata ku. 20 detik telah berlalu. Aku kembali masuk kedalam pikiranku.
Mentarari telah menampakkan dirinya. Tanpa disadari apa
yang aku lihat kini bagaikan mimpi. Aku mencubit kulitku berkali-kali untuk
membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi. Tuhan mendengar apa yang aku minta. Aku
melihat sekumpulan orang-orang yang menjajahkan jualannya di gurun ini, digurun
pasir yang penuh kepalsuan ini. Dengan harapan mereka dapat membawa ku kembali
ke rumah. Jarakku tidaklah jauh dari mereka, hanya berjarak 1 km. Aku mulai
berjalan, tak sabar untuk bebas dari kekejaman gurun ini.
Tik tokk tik tok tik tok…
Hanya
berlalu 3 detik rupanya dari detik sebelumnya.
Aku berjalan terus kedepan hingga akhirnya hanya tinggal beberapa
langkah untuk dapat keluar dari gurun ini. Hanya menghitung mundur dari 10, 9,
8, 7, 6, 5, 4, 3. Disaat aku akan melangkahkan kaki pada hitungan kedua, aku
mendengar seseorang dari kejahuan memanggil namaku “eno” dengan suara yang
sangat lantang dan dari arah yang berlawanan. Suara itu sangat jauh dan
terdengar sangat keras saat memanggilku. Kucoba untuk mengabaikan suara itu.
Suara yang akan menghalangi ku untuk bebas dari gurun ini. Tapi suara itu terlalu mengganggu. Aku tetap
tidak memerdulikan suara itu. Kesempatan bebas sudah di depan mata, hanya
tinggal melangkahkan kaki satu langkah lagi, maka aku akan bebas.
Tik tok tik tok tik tokkk..
Kulihat jarum
jam, ternyata masih belum menyelesaikan satu menit pun dari awal aku masuk
kedalam pikiranku, aku menutup kembali mataku.
Ketika aku mengangkat kaki ku untuk langkah yang
terakhir, ku dengar suara itu kembali dengan lebih jelas. Aku mengenal suara
itu. Ingin aku menoleh tapi bagaimana dengan kebebasanku? Tinggal 1 langkah
lagi. Aku takut menoleh dan aku takut melihat kenyataan yang tak berbanding
lurus dengan apa yang kuharapkan. Suara itu begitu mengganggu dan terasa
terengah-engah “enoo, enooo,enoo”. Aku tak bisa. Tak bisa. Tak bisa aku
melanjutkan langkahku dan kebebasanku yang sudah ada di depan mata. Aku menoleh
dan benar, aku mengenal orang itu. Orang yang dulu pernah membuatku terjebak di
gurun yang penuh dengan kepalsuan ini. Aku berjalan kearahnya dan meninggalkan
kebebasan yang sudah di depan mata. Dia terlihat sangat lelah dan pucat, bahkan
terlihat lebih lelah dariku. Aku membantunya berdiri, aku menopangnya dengan
penuh kasih. Tapi apa yang kudapat? Kepalsuan untuk yang kedua kali. Dia
berhasil membawaku menjauh dari
kebebasan. Dia bagaikan iblis di gurun pasir, iblis yang datang tiba-tiba dan
menghilang tiba-tiba.
Tiikk took tikk took…
Aku
membuka mataku yang sudah penuh dengan air mata dan menatap lurus pada jarum
jam yang dari tadi belum menyelesaikan menitnya 1 menit pun. Terlalu banyak
awan hitam di sekelilingku. Hingga akhirnya aku bangun dari duduk ku dan
mengambil jam dinding tersebut lalu melemparnya sejauh mungkin hingga hancur.
Hancur hingga detik pun tak dapat bergerak kembali..
